Manado, IntensNews.com –Awan duka yang mendalam menyelimuti dunia pendidikan di Sulawesi Utara (Sulut). Prof. Dr. Jan Lukas Lambertus Lombok, yang dikenal luas sebagai Rektor pertama Universitas Negeri Manado (Unima), telah berpulang ke pangkuan Sang Pencipta.
Kepergian tokoh sentral pendidikan Bumi Nyiur Melambai ini tidak hanya meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga besar dan civitas akademika Unima, tetapi juga menyisakan rasa kehilangan bagi seluruh masyarakat Sulawesi Utara.
Kesedihan mendalam ini dirasakan betul oleh sang putra, Billy Lombok. Di mata Billy, yang juga merupakan Anggota DPRD Provinsi Sulut, sang ayah adalah sosok teladan dan akademisi sejati yang telah mengabdikan seluruh sisa hidupnya demi mencerdaskan kehidupan bangsa.
Saat ditemui Forum Wartawan DPRD (FORWARD) Sulut di rumah duka di kawasan Kleak, Kecamatan Malalayang, Kota Manado, Rabu (3/6), Billy menceritakan bahwa kondisi kesehatan ayahandanya memang mulai menurun sejak satu setengah tahun terakhir.
Demi memastikan mendiang mendapatkan perawatan terbaik, pihak keluarga secara bergantian menjaga Prof. Jan tanpa henti.
“Papa sudah drop sejak 1,5 tahun lalu. Namun tidak selalu di rumah sakit. Jadi saya dan keluarga tidak bisa tinggalkan papa, dijaga terus,” ungkap Billy dengan nada lirih.
Meski kondisi fisiknya terus melemah akibat digerogoti penyakit, dedikasi dan semangat Prof. Jan terhadap dunia pendidikan rupanya tidak pernah padam. Bahkan, dari balik ranjang rumah sakit, pendiri sekaligus tokoh penting dalam sejarah perjalanan Unima ini masih terus memikirkan kampus tercintanya yang berada di Tondano.
Billy mengenangkan bagaimana sang ayah tetap mengingat tugas akademik dan kerinduannya pada suasana kampus.
Kerinduan pada Kampus: “Papa bilang ingin pulang dari rumah sakit dan akan pergi ke Tondano karena mau lihat kelas di sana,” kenang Billy.
Kepedulian Terhadap Mahasiswa: Di masa-masa akhir hidupnya, Prof. Jan bahkan masih menyempatkan diri menghubungi rekan-rekan sejawatnya di kampus lewat sambungan telepon.
Memastikan Proses Belajar Berjalan: ”Papa masih telepon dosen-dosen, tanya bagaimana kelas, siapa dosen yang masuk, apakah tugas-tugas berjalan lancar,” tuturnya.
Kepergian Prof. Jan Lombok meninggalkan jejak pengabdian yang panjang serta warisan pemikiran yang luar biasa bagi kemajuan pendidikan tinggi di Sulawesi Utara.
Sebelum dimakamkan, jenazah dijadwalkan akan dibawa terlebih dahulu ke kampung halaman di Desa Kumelembuai, Kabupaten Minahasa Selatan, sebelum akhirnya dibawa kembali ke Kota Manado.
Berdasarkan informasi resmi dari pihak keluarga, seluruh rangkaian prosesi pemakaman direncanakan akan berlangsung pada Sabtu, 6 Juni 2026, bertempat di Pekuburan Arimatea.
Selamat jalan Prof. Jan Lombok. Dedikasi, integritas, dan pengabdianmu akan selalu abadi dan melekat di hati masyarakat Sulawesi Utara.


Tinggalkan Balasan